Tampilkan postingan dengan label TUGAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUGAS. Tampilkan semua postingan

27 Maret 2016

Ikan Kakap Merah

Ikan Kakap Merah

BAB I
PENDAHULUAN


1.1              Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas perairan, dan mempunyai laut serta potensi perikanan yang sangat besar. Oleh karena itu sangat disayangkan bila perikanan tidak digali secara optimal. Seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk di Indonesia yang sangat cepat dan adanya kesadaran masyarakat akan manfaat produk perikanan sebagai penyedia sumber protein hewani, tingkat konsumsi akan ikan yang tinggi menjadikan produk perikanan potensial untuk dikembangkan.
Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Sebagai bahan pangan ikan merupakan sumber protein, lemak, vitamin dan mineral yang sangat baik untuk tubuh. Kandungan protein pada ikan mempunyai komposisi asam amino yang lengkap dengan produk lainnya sehingga mudah dicerna.
Ikan kakap merah merupakan salah  satu komoditas perikanan laut yang  bernilai ekonomis tinggi tinggi dan banyak digemari, baik untuk dikonsumsi masyarakat atau untuk komoditas ekspor. Banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi ikan kakap merah karena ikan ini dikenal mempunyai kandungan gizi tinggi yang dapat meningkatkan kesehatan tubuh.
Lutjanus sebae merupakan ikan kakap merah yang memiliki habitat luas. Ikan ini dapat hidup di perairan tropis dan subtropis, pada kedalaman sekitar 100  meter dengan habitat terumbu karang dan juga dasar perairan berpasir Juvenilnya dapat ditemui pada perairan teluk yang dangkal, laguna atau terumbu karang dan kadang-kadang dapat pula ditemui pada perairan payau.
 Ikan yang sudah dewasa, yang sudah lebih dari 18 inchi (45,72 cm), akan beruaya ke perairan yang lebih dalam selama musim panas dan beruaya kembali ke perairan yang lebih dangkal pada musim dingin. Ikan dewasa tersebut dapat bersifat soliter maupun berkelompok dengan yang seukuran. Ikan ini termasuk jenis karnivor dan  makanan utamanya meliputi jenis ikan kecil, udang dan cumi-cumi



1.2       Rumusan Masalah
Beberapa permasalahan yang akan dibahas adalah:
1.      Apa itu ikan Kakap merah?
2.      Bagaimana habitat dan penyebaran ikan kakap merah?
3.      Bagaimana kebiasaan makan ikan Kakap merah?
4.      Bagaimana reproduksi ikan Kakap Merah?
5.      Apa-apa saja kandungan gizi yang terdapat pada ikan kakap merah?
6.      Bagaimana sifat fisik ikan kakap merah?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1        Deskripsi dan Klasifikasi Ikan Kakap Merah
Secara morfologi, bentuk badan ikan kakap merah memanjang sampai agak pipih. Mulutnya terletak pada bagian ujung kepala (terminal), biasanya terdapat gigi taring (canine) pada rahangnya. Bagian pinggir operculum biasanya bergerigi dan sisiknya ctenoid. Bagian depan dari kepala tak bersisik atau pada bagian depan dari tutup insang terdapat beberapa baris sisik. Sering terdapat bintik atau noda kehitaman (blotches). Sirip punggung tunggal dengan jari-jari 9-12 jari-jari sirip keras dan 9-17 jari-jari sirip lemah yang bercabang. Sirip dubur dengan 3 sirip keras dan 7-14 sirip lemah bercabang. Sirip ekor mulai dari yang berbentuk truncate sampai berbentuk cagak yang dalam (deeply forked). Secara lengkap taksonomi ikan kakap merah adalah sebagai berikut :

Philum                         : Chordata
Sub phylum                 : Vertebrata
Class                            : Pisces
Subclass                      : Teleostomi
Ordo                            : Pereomorphi
Keluarga                      : Lutjanidae
Genus                          Lutjanus
Spesies                        : Lutjanus sanguineus

Kakap merah adalah salah satu jenis ikan demersal ekonomis penting yang cukup banyak tertangkap di perairan Indonesia. Jenis ikan tersebut biasanya tertangkap di perairan paparan (continental shelf). Beberapa Jenis diantaranya berada pada habitat perairan yang sedikit berkarang. Adapun ciri – ciri Ikan kakap merah sebagai berikut :
­          Badan memanjang melebar, gepeng kepala cembung, bagian bawah penutup insang bergerigi.
­          Gigi-gigi pada rahang tersusun dalam ban-ban, ada gigi taring pada bagian terluar rahang atas, sirip punggung berjari-jari keras 11 dan lemah 14, sirip dubur berjari-jari keras 3 lemah 8-9, termasuk ikan buas, makannya ikan kecil dan invertebrata dasar laut.
­          Hidup menyendiri di daerah pantai sampai kedalaman 60 m. Dapat mencapai panjang 45-50 Cm.Warna bagian atas kemerahan/merah kekuningan, di bagian bawah merah keputihan. Garis-garis kuning kecil diselingi warna merah pada bagian punggung di atas garis rusuk
­          Kakap merah yang dewasa berwarna merah gelap sedangkan juvenilnya berwarna merah muda dengan band berwarna merah gelap. Bagian sirip punggung, sirip, dubur, dan bagian atas sirip ekor berwarna gelap
2.2        Habitat dan Penyebaran Ikan Kakap Merah
Ikan kakap merah umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap merah berukuran besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil. Selain itu biasanya kakap merah tertangkap pada kedalaman dasar antara 40–50 meter dengan substrat sedikit karang dan salinitas 30–33 ppt serta suhu antara 5-32ºC.
Famili Lutjanidae utamanya menghuni perairan tropis maupun sub tropis, walau tiga dari genus Lutjanus ada yang hidup di air tawar (Baskoro et al. 2004). Penyebaran kakap merah di Indonesia sangat luas dan hampir menghuni seluruh perairan pantai Indonesia. Penyebaran kakap merah arah ke utara mencapai Teluk Benggala, Teluk Siam, sepanjang pantai Laut Cina Selatan serta Filipina. Penyebaran arah ke selatan mencapai perairan tropis Australia, arah ke barat hingga Arfika Selatan dan perairan tropis Atlantik Amerika, sedangkan arah keTimur mencapai pulau-pulau di Samudera Pasifik (Direktorat Jenderal Perikanan, 1983 dalam Baskoro et al. 2004).
Menurut Djamal dan Marzuki (1992), daerah penyebaran kakap merah hampir di seluruh Perairan Laut Jawa, mulai dari Perairan Bawean, Kepulauan Karimun Jawa, Selat Sunda, Selatan Jawa, Timur dan Barat Kalimantan, Perairan Sulawesi, Kepulauan Riau.
Ikan kakap merah (Lutjanus sp.) umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap merah berukuran besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil.
Selain itu biasanya kakap merah tertangkap pada kedalaman dasar antara 40–50 meter dengan substrat sedikit karang dan salinitas 30–33 ppt serta suhu antara 5-32ºC (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, 1991). Jenis yang berukuran kecil seringkali dijumpai beragregasi di dekat permukaan perairan karang pada waktu siang hari. Pada malam hari umumnya menyebar guna mencari makanannya baik berupa jenis ikan maupun crustacea. Ikan-ikan berukuran kecil untuk beberapa jenis ikan kakap biasanya menempati daerah bakau yang dangkal atau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut. Potensi ikan kakap merah jarang ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan lingkungan yang beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan
bakau, daerah pantai sampai daerah berkarang atau batu karang
2.3        Kebiasaan Makan
Jenis ikan kakap merah termasuk ikan carnivor. Ikan ini merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Aktivitas ikan nocturnal tidak seaktif ikan diurnal atau ikan yang aktif pada waktu siang hari. Pergerakan ikan nocturnal  cenderung lambat ataupun pasif, adapun arah pergerakannya tidak seluas ikan diurnal. Diduga ikan nocturnal lebih banyak menggunakan indra perasa dan penciuman dibandingkan indra penglihatannya. Bola mata yang besar menunjukkan ikan nocturnal menggunakan indra penglihatannya untuk ambang batas intensitas cahaya tertentu, tetapi tidak untuk intensitas cahaya yang kuat (Iskandar dan Mawardi, 1997dalam Wontek, R. 2012).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva yang baru menetas berukuran panjang total 2,44-2,63 mm, membawa pakan endogen berupa kuning telur sebesar 179x10-3- 183 x10-3 mm3 dan butir minyak 0,66x10-3- 0,67x10-3 mm3. Kuning telur habis terserap dalam waktu 60 jam dan butir minyak hampir habis dalam waktu 80 jam setelah penetasan. Jenis pakan alami yang dominan dipilih oleh larva L.sebae hingga umur 10 hari adalah rotifer, setelah berumur 12 dan 16 hari larva cenderung memilih copepod dan naupli artemia sebagai pakannya. Pola pertumbuhan larva hingga menjadi benih adalah eksponential. Periode pemeliharaan larva berlangsung 22-29 hari pada suhu air 28,5-30,0oC. Sintasan larva yang dihasilkan berkisar 0,39-2,10%, sedangkan sintasan benih 84-100%.
2.4        Reproduksi Ikan Kakap Merah
Ikan kakap merah tergolong jenis ikan dioecious/biseksual yaitu ikan yang tidak dijumpai perbedaan antara jantan dan betina secara visual, baik dalam struktur tubuh maupun dalam hal warna (BBPBL Lampung, 2013b). Pola reproduksinya gonokorisme, yaitu setelah terjadi diferensiasi jenis kelamin, maka jenis seksnya akan berlangsung selama hidupnya, jantan sebagai jantan dan betina sebagai betina (Zulkarnaen, 2007).
Ikan kakap merah secara fisiologis mengalami perubahan kelamin dari jantan menjadi betina (protogini) apabila induk mencapai umur 3 tahun atau panjang mencapai 50 cm, sel kelamin jantan mulai berkembang pada ikan dengan panjang lebih dari 20 cm, berkembangnya sel kelamin jantan dipengaruhi oleh umur ikan, lingkungan serta pakan, dan apabila umur ikan lebih dari 5 tahun akan cenderung betina (Priyono et al., 2003). Jenis ikan ini rata-rata mencapai tingkat pendewasaan pertama saat panjang tubuhnya telah mencapai 41–51% dari panjang tubuh total atau panjang tubuh maksimum. Jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang lebih kecil dari betinanya (Zulkarnaen, 2007).
 Perkembangan embrio ikan diawali dengan fertilisasi yang terjadi di luar tubuh (eksternal). Fertilisasi adalah proses bersatunya inti sel telur dengan inti sperma membentuk zigot. Setelah proses fertilisasi kemudian terjadi proses pembelahan zigot secara cepat menjadi unit- unit sel yang lebih kecil yang disebut morula, kemudian membentuk blastula, 6 jam kemudian terbentuk embrio awal, disusul dengan terbentuknya miomer awal, miomer tengah, dan miomer akhir. Telur yang matang sebagian besar terdiri atas lemak, protein dan karbohidrat (Sumantadinata, 1981 dalam Batara, R. J. 2008).
Larva yang baru menetas bersifat transparan, gerakannya lamban, dan masih membawa kuning telur sebagai cadangan makanannya. Butir minyak terletak dibagian tengah bawah. Larva kehabisan cadangan makanan setelah berumur 4-5 hari yaitu pada fase heatchilings pada fase ini terjadi perubahan pola pakan yang semula berasal dari dalam tubuh (endogenous) beralih ke sumber makanan yang berasal dari luar tubuh  (exogenous), pada peralihan fase antara heatchilings dan larva banyak terjadi kematian.
2.5        Kandungan Gizi Yang terdapat pada Ikan Kakap merah
Ikan kakap merah dengan porsi 250 gr mengandung 32,5 mcg mineral selenium. Selenium adalah mineral untuk mencegah terjadinya oksidasi lemak. 250 gr porsi kakap merah mengandung 168 mg fosfor. Fosfor dalam ikan ini adalah nutrisi yang berkaitan dengan kesehatan tulang dan kepadatan tulang. 85% dari fosfor ditemukan pada tulang ikan tersebut. Kakap merah mengandung protein sekitar 33% dari nilai kebutuhan harian yang direkomendasikan. 250 gr porsi ikan kakap merah mengandung 17,4 mg protein. Protein diperlukan untuk produksi hormon, enzim, jaringan dan antibodi. Kakap merah mengandung protein lengkap, yang berarti semua asam amino esensial yang ada dalam makanan. Kakap merah menyediakan hampir seluruh nilai kebutuhan vitamin D harian yang direkomendasikan. Vitamin D penting untuk metabolisme kalsium, yang membantu kesehatan tulang (Balekambang, 2013).

2.6        Sifat Fisik Ikan Kakap Merah
Sifat fisik umum dari ikan kakap merah adalah sangat mudah rusak  dan membusuk. Kerusakan produk perikanan baik yang bersifat enzimatis maupun bakteriologis akan mengakibatkan terjadinya dekomposisi protein maupun lemak. Kerusakan protein akan mengakibatkan terjadinya kebusukan sedangkan kerusakan lemak akan mengakibatkan terjadinya ketengikan. Ketengikan menyebabkan penurunan kualitas gizi, sensori dan keamanan bahan pangan yang disebabkan oleh terbentuknya senyawa sekunder yang berpotensi toksik.
Sifat fisik ikan kakap merah yang masih segar yaitu ikan memiliki kenampakan fisik yang cemerlang dan mengkilap, badan utuh, tidak patah, dan tidak rusak fisik. Mata ikan cerah (terang), selaput mata jernih, pupil hitam dan menonjol. Insang berwarna merah cemerlang dan tidak ada banyak lendir. Bau segar seperti bau spesifik ikan kakap yang masih segar dan tidak berbau busuk. Tekstur ikan kaku atau masih lemas dengan daging elastis, jika ditekan dengan jari cepat kembali, dan sisik ikan tidak mudah lepas. .

BAB III
PENUTUP
3.1       Kesimpulan
·         Ikan kakap merah memiliki sifat stenohaline
·         Habitat ikan kakap merah adalah disekitaran daerah terumbu karang
·         Ikan kakap merah adalah jenis ikan nokturnal
·         Ikan kakap merah tergolong jenis ikan dioceus


3.2       Saran

























DAFTAR PUSTAKA
Baskoro. M. S, Ronny. I.W, dan Arief Effendy. 2004. Migrasi dan Distribusi
                  Ikan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Direktorat Jenderal Perikanan. 1983. Hasil Ealuasi Potensi Sumberdaya Hayati                 Perikanan di Perairan Indonesia dan Perairan ZEE Indonesia.                      Direktorat Sumberdaya Hayati. Balai Penelitian Perikanan Laut.                           Departemen Pertanian Jakarta.
Djamal R. dan S. Marzuki. 1992. Analisis Usaha Penangkapan Kakap Merah dan              Kerapu dengan Pancing Prawe, Jaring Nylon, Pancing Ulur dan Bubu.          Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Balai Penelitian Perikanan Laut.                       Balitbang Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.